Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertaqwa (QS Maryam : 63)
Para Pewaris Surga itu adalah Orang-orang ‘Muttaqiin’.
Derajat taqwa adalah maqam tertinggi yang dapat dicapai oleh setiap hamba Allah Swt. Allah menyebut mereka dengan julukan “muttaqiin”. Golongan muttaqiin adalah orang-orang yang mendapatkan keutamaan, rahmat dan kasih sayang Allah Swt. Merekalah orang-orang yang diistimewakan, orang-orang yang dicintai Allah, disertai-Nya serta diwarisi surga dengan segala kenikmatannya yang tiada tara, sebab mereka adalah orang-orang yang sigap, tanggap dan responsif terhadap petunjuk-petunjuk Allah Swt dengan penuh ketundukan, ketaatan dan kepatuhan tanpa mengabaikan sedikitpun dari perintah dan larangan-Nya, Al Quran dijadikannya rujukan dan imam dalam setiap aktivitas kehidupan agar Allah meridlai-Nya. Merekalah orang-orang yang rela menanggung segala kepedihan dan kesengsaraan duniawi dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab penuh sebagai hamba-hamba Allah yang berusaha memelihara hakikat keimanan, menyadari bahwa hakikat kehidupan dan kematian serta yang terjadi didalamnya berupa kebaikan dan keburukan, hanyalah ujian dari Allah Swt dalam rangka menyeleksi setiap orang yang paling baik dalam menyikapi setiap persoalan kehidupannya dengan memasrahkan diri dan menundukkan hati dihadapan-Nya, Ilahi Rabbi, yang telah menciptakan setiap makhluk, memelihara ciptaan-Nya, memenuhi segala kemaslahatannya dengan aturan-aturan, petunjuk dan larangan, membimbing dan membina agar mencapai hamba-hamba yang tidak merugi di akhirat kelak. Singkatnya, ciri-ciri ketaqwaan yang diuraikan dalam al-Quran telah menjadi menyatu menjadi sifat hamba-hamba Allah yang satu ini sehingga ia dijuluki ‘al-Muttaqiin’, orang-orang yang bertaqwa. Mengingat adanya kelompok manusia yang berperilaku sebaliknya, wajar sekali jika orang-orang ‘muttaqin’ tersebut Allah janjikan segala kenikmatan dan diwariskan kemegahan surga, kemewahan serta kenikmatan yang tidak pernah dapat dibayangkan sebelumnya . Sebab janji surga merupakan ‘tabsyir’ kabar gembira yang Allah informasikan melalui al-Quran agar mereka yang berjuang melaksanakan ketaatan kepada-Nya tetap konsisten dan istiqamah serta termotivasi untuk meningkatkan kualitas dihadapan-Nya tanpa membandingkan dengan mereka yang diberikan kenikmatan materi dunia dan kesenangan yang bersifat fisik sambil melupakan hakikat ketaatan kepada-Nya, karena cukuplah bagi mereka, ketaatan kepada-Nya akan menghasilkan keuntungan yang tidak terkira apalagi jika dibandingkan dengan dunia. Allah Swt berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam surga dan kenikmatan (QS Atthur : 17)
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di taman-taman (surga) dan di mata air-mata air ( QS Adzzariyat : 15)
Orang-orang ‘Muttaqiin’ dan Al-Quran
Allah Swt telah menjadikan al-Quran sebagai kitab suci ummat Muhammad yang isinya merupakan petunjuk untuk seluruh ummat manusia sebagai satu-satunya makhluk hidup yang berakal di muka bumi (QS. Al-Baqarah : 185). Ini berarti Al-Quran lah satu-satunya petunjuk untuk mencapai kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat tanpa kecuali. Berpaling saja sedikit dari al-Quran, Allah ancam dengan kehidupan yang serba sempit. Demikianlah ancaman Allah dalam QS Thaahaa: 124. Bahkan ia terancam segala kepentingannya di akhirat kelak tidak akan diperhatikan oleh Dzat yang menguasai hari Pembalasan, Allah Swt, bahkan ia termasuk yang dilupakan. Lengkapnya QS Thaaha tersebut mengatakan :
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan Menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ” Ya Tuhan-ku, mengapa Engkau Menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”. Allah berfirman,”Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan. (QS Thaahaa : 124 - 126)
Dialog di atas menunjukkan adanya kelompok manusia yang tidak menghiraukan al-Quran. Ini membuktikan bahwa tidak semua manusia dapat menjadikan al-Quran sebagai petunjuk dalam kehidupannya kendatipun petunjuknya demikian dekat menyentuh hati dan selaras dengan jiwa, namun keinginan nafsu yang demikian besar telah berani mengabaikan bahkan melupakan atau minimal menangguhkan fungsinya hingga mengharapkan kesadaran diri datang, yang tidak dapat dipastikan kapan akan menghampirinya jika tidak ada usaha untuk mendekatinya. Tapi ada juga orang-orang yang teguh berada di jalan al-Quran










